GO SHARE Akan datang Keberkahan pada kamu jika kamu berbagi hal hal yang baik.... Aminnk.... Aminn

Kamis, 01 Desember 2016

merasa tidak mampu untuk membaca ?? Ayah dari anaknya Porter Mayat Of RSCM Jakarta, Bogor Karena Tidak Mampu Ambulance Pay.! bahkan polisi memegang diduga pembunuh..astagfirulah ,,,, membiarkan ayah do'akan mudah-mudahan lebih cepat sampai tujuan..aminnn

merasa tidak mampu untuk membaca ?? Ayah dari anaknya Porter Mayat Of RSCM Jakarta, Bogor Karena Tidak Mampu Ambulance Pay.! bahkan polisi memegang diduga pembunuh..astagfirulah ,,,, membiarkan ayah do'akan mudah-mudahan lebih cepat sampai tujuan..aminnn -




bisa tidak ingin membaca ?? Ayah dari anaknya Porter Mayat Of RSCM Jakarta, Bogor Karena Tidak Mampu Ambulance Pay.! bahkan polisi memegang diduga pembunuh..astagfirulah ,,,, membiarkan ayah do'akan mudah-mudahan lebih cepat sampai tujuan..aminnn


Ada Mayat Di Jakarta ayah dari transportasi. Anaknya Bogor Semua Karena Of RSCM mampu membayar Ambulance

Penumpang listrik kereta api (KRL) jurusan Jakarta - Bogor pun geger Minggu (5/6). Karena mereka tahu bahwa harta bernama Supriono (38) memegang tubuh anak-anak, khaerunisa (3 tahun).

Supriono mengubur anak di desa Kramat, Bogor dengan menggunakan jasa KRL, Tapi stasiun Tebet, Supriono dipaksa meninggalkan kereta dan dibawa ke kantor polisi karena dicurigai anak adalah korban kejahatan. Tapi di kantor polisi, Supriono mengatakan anak meninggal karena penyakit diare. Polisi tidak percaya memaksa Supriono segera membawa jenazah ke RSCM untuk diautopsi.

Di RSCM, Supriono menjelaskan bahwa khaerunisa memiliki empat hari dengan diare dan muntah. Itu dibawa untuk berobat ke klinik kecamatan khaerunisa Setiabudi. Saya khaerunisa sekali dibawa ke klinik, saya tidak punya uang untuk membawanya kembali ke klinik, bahkan jika biaya hanya Rp 4.000, - saya hanya pemulung botol kardus, kaca dan plastik yang berpenghasilan hanya Rp 10.000, - per hari. Kata ayah dua anak yang mengaku hidup di bawah persimpangan di Cikini ka itu.
Supriono hanya bisa berharap Khaerunisa sembuh dengan sendirinya. Selama khaerunisa sakit terkadang masih mengikuti ayah dan saudaranya, tumpukan muriski (6 tahun), untuk menjebak kardus di manggarai di Salemba, bahkan hanya berbaring ayah digerobak.

Karena berdaya melawan penyakit dengan mengikuti khaerunisa menghembuskan nafas terakhirnya pada Minggu (5/6) pukul 07.00.

khaerunisa meninggal di depan ayahnya dengan berbaring di gerobak kotor, bersama bau kardus. Tidak ada satu kecuali ayah dan kakaknya. Supriono dan muriski tertegun. Uang di saku tinggal rp 00 - mungkin tidak cukup untuk membeli kain kafan untuk membungkus tubuh si kecil dengan kehidupan yang layak, apalagi harus menyewa ambulans. Khaerunisa belum
berbaring di gerobak. Supriono mengundang musriki berjalan mendorong gerobak berisi mayat sampai manggarai stasiun Tebet Supriono berniat untuk mengubur anaknya di desa pemulung di Kramat, Bogor. Ia berharap untuk sampai ke sana menggunakan pemulung lainnya.

Pukul 10.00 yang mulai layu, dana itu untuk mencapai stasiun Tebet.

Sisanya hanya sarung tangan kusut kemudian digunakan untuk membungkus tubuh anak. mayat tercinta kepala dibiarkan terbuka, sehingga orang tidak tahu apakah khaerunisa wajah sudah pencipta alam semesta. Dengan bekerja sama dengan senior berusia 6, Supriono Khaerunisa mengambil ke stasiun. Ketika jurusan KRL Bogor datang tiba-tiba Supriono pedagang mendekati dan meminta anaknya. Kemudian dijelaskan oleh Supriono bahwa anaknya telah meninggal dan akan dibawa ke Bogor penumpang KRL spontan yang mendengar penjelasan langsung Supriono Supriono tumpukan dan langsung membawanya ke kantor polisi Tebet. Polisi menuduh bahwa Supriono membawa anak-anak mereka untuk RSCM kapal ambulans hitam.

Supriono bersikeras permintaan bahwa tubuh anaknya akan segera dimakamkan.

Tapi itu hanya dapat bersandar di dinding sambil melihat ke depan menuntut surat rumah RSCM. Khaerunisa menatap mayat bergerak. Sampai saat itu Muriski saudara yang tidak mengerti bahwa adiknya selalu terus bermain sambil menjaga kematian sesekali tubuh adiknya. Pukul 16.00, akhirnya petugas RSCM mengeluarkan surat tersebut, lagi karena mereka tidak punya uang untuk menyewa ambulans Supriono harus berjalan membawa mayat Khaerunisa dengan kain sarung sambil mempertahankan Muriski tangan. Beberapa warga minta maaf untuk memberikan uang kepada sejauh yang diperlukan untuk melakukan perjalanan ke Bogor.

RSCM Para pedagang juga menyediakan air minum kemasan untuk Supriono Muriski dan makan siang di perjalanan.

psikolog Sartono Mukadis menangis mendengar cerita ini dan mengaku benar-benar memukul dengan peristiwa yang sangat tragis seperti PNS dan pemerintah sekarang lebih memperhatikan orang lain. Insiden ini merupakan dosa orang-orang, kita harus bertanggung jawab untuk merawat tubuh khaerunisa. Jangan bilang keluarga Supriono tidak kartu ID atau rumah tangga atau bahkan tempat tinggal dan alamat tetap. Ini adalah tamparan di bangsa Indonesia, kata dia



sumber: beradab.com
sumber:http://www.keluarga-sehat.com/2016/05/tak-sanggup-rasanya-membacanya-ayah.html
kontroversi baru

Related Posts

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

0 komentar:

Posting Komentar